• Masjid Jami Arrahman Perumahan Green De Jalen Terrace Residence Tambun Utara
Sabtu, 6 Juni 2026

Jika Bulan Puasa Setan Dibelenggu, Lalu Siapa yang Menggoda Manusia?

Bagikan

Oleh : Iip Miftahuzzaman,S.Pd.I,CHt

Bulan Ramadan adalah bulan yang penuh berkah, rahmat, dan ampunan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Salah satu hal yang sering kita dengar dalam hadis Rasulullah ﷺ adalah bahwa di bulan Ramadan, setan-setan dibelenggu.

Hadis Tentang Setan Dibelenggu di Bulan Ramadan

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِحَتْ أَبْوَابُ الجَنَّةِ، وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ، وَسُلْسِلَتِ الشَّيَاطِينُ

“Apabila telah datang bulan Ramadan, maka pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu.”

(HR. Bukhari No. 1899 & Muslim No. 1079)

Namun, meskipun dalam hadis disebutkan bahwa setan dibelenggu, mengapa masih ada manusia yang tetap berbuat dosa di bulan Ramadan? Apakah ini berarti ada godaan lain selain dari setan?

Untuk menjawab pertanyaan ini, mari kita pahami lebih dalam siapa sebenarnya yang menggoda manusia untuk berbuat dosa.

1. Godaan dari Nafsu Manusia Sendiri

Selain setan, salah satu musuh terbesar manusia adalah hawa nafsu. Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an:

إِنَّ ٱلنَّفْسَ لَأَمَّارَةٌۭ بِٱلسُّوٓءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّىٓ ۚ إِنَّ رَبِّى غَفُورٌۭ رَّحِيمٌ

“Sesungguhnya nafsu itu selalu mendorong kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku.”

(QS. Yusuf: 53)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ al-Fatawa menyebutkan bahwa manusia memiliki dua musuh utama yang menyesatkannya dari jalan yang lurus, yaitu setan dan hawa nafsunya sendiri. Bahkan, ketika setan tidak bisa menggoda, hawa nafsu tetap bisa mengarahkan seseorang kepada kejahatan.

Contohnya:

Marah dan emosi yang membuat kita lupa bahwa Ramadan adalah bulan kesabaran.

Makan berlebihan saat berbuka, sehingga malas untuk beribadah.

Ghibah (bergosip) dan perkataan buruk, yang tetap terjadi meskipun sedang berpuasa.

Karena itulah, Ramadan sebenarnya adalah ajang untuk menaklukkan hawa nafsu, bukan hanya untuk menahan lapar dan haus semata.

2. Apakah Setan Benar-benar Dibelenggu?

Para ulama memberikan berbagai tafsiran terkait hadis tentang setan yang dibelenggu di bulan Ramadan.

1. Imam An-Nawawi (w. 676 H) dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan:

“Maksud dari dibelenggunya setan adalah bahwa mereka terhalang dari menggoda manusia semaksimal mungkin, dan bukan berarti mereka benar-benar tidak bisa menggoda sama sekali.”

Dengan kata lain, meskipun setan dibelenggu, mereka masih bisa beraktivitas dengan lebih terbatas dibandingkan bulan-bulan lain. Hal ini juga bergantung pada kondisi hati manusia. Jika seseorang sudah terbiasa dengan maksiat sebelum Ramadan, maka kebiasaannya bisa tetap berlangsung tanpa perlu godaan dari setan.

Ibn Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari juga menafsirkan hadis ini dengan beberapa kemungkinan:

1. Setan yang dimaksud adalah setan-setan dari golongan yang sangat jahat dan berpengaruh besar, bukan semua setan.

2. Dibelenggu di sini bisa bermakna kiasan, yakni bahwa mereka lebih lemah menggoda manusia dibanding bulan-bulan biasa.

3. Efek godaan mereka menjadi berkurang karena umat Islam lebih giat dalam ibadah.

Hal ini berarti, orang yang masih berbuat maksiat di bulan Ramadan, bisa jadi karena pengaruh hawa nafsunya sendiri, bukan semata-mata godaan setan.

2. Godaan dari Setan yang Masih Tersisa

Meskipun setan dikatakan dibelenggu, sebagian ulama berpendapat bahwa tidak semua setan dibelenggu. Imam Nawawi menyebutkan dalam Syarh Shahih Muslim:

“Bisa jadi yang dimaksud adalah sebagian setan, yaitu mereka yang paling jahat di antara mereka, bukan semua setan.”

Hal ini berarti, ada sebagian setan yang masih bisa berkeliaran meskipun pengaruhnya tidak sekuat biasanya. Oleh karena itu, masih ada kemungkinan manusia mendapatkan bisikan-bisikan setan untuk berbuat dosa.

Bahkan, meskipun setan dibelenggu, pengaruh dosa yang telah mereka tanam selama 11 bulan sebelumnya masih ada di dalam hati manusia. Jika seseorang terbiasa mengikuti hawa nafsunya sebelum Ramadan, maka di bulan Ramadan pun ia bisa tergoda oleh dirinya sendiri.

3. Godaan dari Manusia yang Bersikap Seperti Setan

Allah ﷻ berfirman:

وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِىٍّ عَدُوًّۭا شَيَٰطِينَ ٱلْإِنسِ وَٱلْجِنِّ يُوحِى بَعْضُهُمْ إِلَىٰ بَعْضٍۢ زُخْرُفَ ٱلْقَوْلِ غُرُورًۭا

“Dan demikianlah Kami jadikan bagi setiap nabi musuh dari kalangan setan-setan manusia dan jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan yang indah untuk menipu.”

(QS. Al-An’am: 112)

Ibnu Katsir dalam Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim menjelaskan bahwa manusia juga bisa menjadi sumber godaan bagi manusia lainnya. Ada orang-orang yang justru menjerumuskan orang lain ke dalam maksiat, baik secara langsung maupun melalui media seperti tontonan yang tidak bermanfaat atau ajakan yang menjauhkan dari agama.

Kesimpulan

Jadi, jika setan dibelenggu di bulan Ramadan, lantas siapa yang menggoda manusia? Ada beberapa faktor yang tetap bisa mendorong manusia berbuat dosa di bulan suci ini:

1. Hawa nafsu yang masih melekat dalam diri manusia.

2. Setan yang masih tersisa, meskipun lebih lemah dalam menggoda.

3. Setan dari golongan manusia yang mengajak pada keburukan.

4. Kebiasaan buruk yang sudah tertanam dalam diri seseorang.

Maka dari itu, Ramadan adalah waktu yang tepat untuk berlatih menahan godaan. Jika kita berhasil menundukkan hawa nafsu dan menghindari pengaruh buruk, maka setelah Ramadan kita bisa menjadi pribadi yang lebih baik. Semoga kita semua mendapatkan ampunan dan keberkahan di bulan suci ini. Aamiin.

Wallahu a’lam bishawab.

SesudahnyaZakat sebagai Sarana dan Solusi Ekonomi Umat